DIRGAHAYU PTDI KE 36 (TAHUN 1976 – TAHUN 2012)

IPTN-DI gedung05 September 2012. Salam hangat,kami Redaksi “Info Karyawan PTDI” sebelumnya ijinkan untuk mengucapkan selamat Hari Raya Idhul Fitri 1433 H, mohon maaf lahir & batin” semoga PTDI dalam mengarungi usia yang ke 36 ini akan semakin maju dalam usahanya sehingga berimbas kepada kesejahteraan bagi seluruh karyawan/ti nya, amin.


LOMBA RIVETING 2012 Peringatan HUT PTDI ke-36 dilaksanakan secara sederhana namun khidmat. Peringatan tersebut dimulai dengan dilakukannya Upacara bersama pada hari pertama masuk pasca libur lebaran, yakni pada hari Senin, tanggal 27 Agustus 2012 lalu. Bertindak sebagai Pembina upacara,yaitu Direktur Aerostructure, Bapak Andi Alisyahbana mewakili Direktur Utama yang berhalangan hadir.

Dalam rangkaian Upacara tersebut dilakukan pula pelepasan ratusan karyawan purna bhakti (Agustus 2010 – Agustus 2012), dan diumumkannya pemenang lomba K3LH untuk lingkungan kantor PTDI (pemenang lomba K3LH terlampir). Peringatan HUT PTDI ke 36 tahun 2012 kali ini juga melombakan pekerjaan merivet (Riveting) yaitu pekerjaanmenyambungkan satu komponen (single part) dengan komponen yang lain. Pekerjaan ini sebetulnyamerupakan pekerjaan rutin yang dilakukan oleh para Karyawan dilingkungan perakitan awal dan akhir (Major Assy dan Fnal Assy).

Pesertanya bukan hanya mereka yang sehari-hari bekerja di tempat tersebut melainkan juga dari lingkungan lain dan juga melibatkan jajaran manajemen. Pemenang lomba Riveting PTDI tahun 2012, dapat disampaikan sbb :
Untuk Kategori Manajemen :Juara I : Direktur Keuangan, Ir. Uray Azhari dan Kepala Divisi Sales Marketing Aircraft Integration, Ir Arie Wibowo. Juara II:Direktur Aircraft Integration, Dr. Ir. Budiman Saleh dan Kepala Divisi Operasi Aircraft integration, Ir. Wawan Setiawan. JuaraIII :Direktur Aircraft Services, Ir. Budi Wuraskito dan Kepala Divisi Operasi ACS, Ir. Edi Gunawan.
Untuk Kategori Umum (Non-Teknis) :Juara I : Sefa Samara S. dan Cucu Sutarman dari unit Pengamanan, mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp. 1.000.000,- Juara II : Asep Sonjaya dan a Mirza Pahlevi dari Direktorat Aircraft Integration, mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp. 750.000,- Juara III :Cecep Septandi dan Erpi Ledtansi dari unit pengamananmendapatkan uang pembinaan sebesar Rp. 500.000,- Ketiga juara di atas mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan.
Untuk KategoriProfessional :Juara I :Dodi Warisman dan Budhy Febrianto dari Direktorat Aerostructure mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp. 3.000.000,- Juara II :Tedy Darmawan dan Jajang dari Direktorat Aircraft Services, mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp. 2.000.000,- Juara III :Aris Rismawandan Aep Saepul R dari Direktorat Aerostructure dan mendapatkan uang pembinaan sebesar Rp. 1.500.000,- Bertindak sebagai juri dalam perlombaan tersebut sebagai berikut Darmo Sugondo dan Totoh Tohyani dari Direktorat Aerostructure, Asep Hendarmin dan Ujang Sutisna dari Direktorat Aircraft Integration, dan Erwin Tugiono dari Direktorat Aircraft Services Selamat kepada para pemenang semoga dengan adanya uang pembinaan bagi kelompok umum dan professional akan meningkatkan gairah kerja serta profesionalisme bagi seluruh karyawan khususnya di jajaran produksi.LOMBA FUTSAL dan TENIS MEJA Acara lain yang digelar guna memeriahkan HUT PTDI ke 36, yaitu dilombakannya Futsal dan Tenis Meja. Ke dua lomba tersebut akan diikuti oleh seluruh tim yang ada di perkantoran PTDI dan anak Perusahaan. Antusias pencinta Futsal dari para karyawan sangat luar biasa, hingga pendaftaran yang tercatat melebihi kuota, hal ini terlepas dari dukungan pihak managemen yang ada.

Lomba Futsal PTDI 2012 rencananya akan diikuti oleh sebanyak 36 tim (disesuaikan dengan usia 36 tahun PTDI) dengan pembagian kategori usia, untuk kategori usia diatas 35 tahun hanya dibatasi sampai 10 tim saja.

Pelaksanaan Lomba Futsal sedianya akan dimulai dari tanggal 06 September 2012 hingga 06 November 2012, di Lapangan Futsal PT Dirgantara Futsal Club di belakang gedung Dharma Wanita setiap hari pukul 16.30. Adapun penyelenggaraan lomba Tenis Meja akan dimulai pada tanggal 10 September 2012 hingga selesai. Perlombaan akan diadakan di Auditorium PKSN. Lomba Tenis Meja ini akan dimeriahkan oleh pertandingan eksibisi antara pemain ranking 1 veteran Nasional melawan pemain-pemain PTDI.

LIKA-LIKU SINGKAT PERJALANAN PTDI MENUJU TAHUN KE 36 PT Dirgantara Indonesia (Persero), akrab disebut dengan PTDI, adalah salah satu industri kedirgantaraan terkemuka Asia yang berpengalaman dan berkompetensi dalam rancang bangun, pengembangan, dan manufaktur pesawat terbang. Agustus ini PTDI memasuki usia 36 tahun. Usia yang seharusnya membuat satu perusahaan sudah sukses.

Namun karena sejumlah faktor, diantaranya krisis moneter 1997-2000, PTDI harus menjalani keadaan jatuh bangun. Bukan hal mudah mempertahankan keberadaan sebuah perusahaan, apalagi perusahaan kedirgantaraan. PTDI resmi berdiri pada 23 Agustus 1976, namun aktivitas pembuatan pesawat terbang telah berlangsung setahun setelah Indonesia merdeka, ditandai dengan dibentuknya Biro Rencana dan Konstruksi Pesawat pada Tentara Republik Indonesia (TRI) tahun 1946. Semula berkedudukan di Madiun, aktivitas itu kemudian dipusatkan di Andir, Bandung.

Lalu, pada 1953, mendapat wadah baru bernama Seksi Percobaan. Empat tahun kemudian menjadi Sub-Depot Penyelidikan, Percobaan dan Pembuatan Pesawat Terbang. Pada 1960, ditingkatkan menjadi Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP).  Dan 5 tahun setelah itu berubah menjadi Komando Pelaksana Industri Pesawat Terbang (KOPELAPIP). Pada 1966 KOPELAPIP digabungkan dengan PN Industri Pesawat Terbang Berdikari menjadi Lembaga Industri Penerbangan Nurtanio (LIPNUR) dengan produk yang dihasilkan antara lain pesawat Sikumbang, Belalang 85/90, Kunang, Super Kunang, Gelatik / PZL-Wilga (lisensi dari Ceko–Polandia). Tahun 1975, PT Pertamina membentuk Divisi Advanced Technology dan Teknologi Penerbangan (ATTP) untuk menyiapkan infrastruktur bagi industri kedirgantaraan Indonesia. Berdasarkan Akte Notaris No.15 tanggal 24 April 1976, berdirilah PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang dipimpin Prof. Dr. Ing. B.J.Habibie dengan menggunakan aset gabungan LIPNUR dan ATTP, berupa dua hanggar, beberapa mesin konvensional dan sekitar 500 karyawan. Program utamanya memproduksi Helikopter NBO-105 (lisensi MBB) dan NC212 (lisensi CASA Spanyol). Perusahaan ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada 23 Agustus 1976.

Tiga tahun kemudian, bersama-sama CASA Spanyol, perusahaan ini merancang pesawat baru CN235 yang kini telah dioperasikan oleh banyak negara di dunia (sekitar 300 unit). Pada April 1986, melalui Keputusan Presiden (Kepres) no.15/1986 dan Rapat Umum Pemegang Saham, nama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio diganti menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN). Pada priode ini, IPTN secara mandiri telah berhasil membuat rancang bangun pesawat terbang N-250. Didesak perubahan lingkungan eksternal, perusahaan mereorientasi bisnisnya diantaranya dengan mengubah nama menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada 24 Agustus 2000.

Pengakuan 
di tengah keprihatinan
Kemampuan dan keberhasilan PTDI dalam menguasai teknologi yang diterapkan dalam bidang desain, manufaktur, jaminan kualitas, dukungan produk, pemeliharaan dan overhaul pesawat terbang, membuat PTDI memperoleh berbagai sertifikasi pengakuan dari pihak otoritas, baik dalam negeri maupun luar negeri (sekitar 20 sertifikat). Penguasaan teknologi dan pengakuan dunia telah membuat peran PTDI dalam pembangunan nasional sangat terasa dengan diproduksi dan dipasarkannya produk-produk dan jasa pesawat terbang ke pasar global.

PTDI juga secara nyata telah memberi kontribusi pada kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Kementerian Pertahanan Republik Indonesia. Menginjak usia 36 tahun, PTDI boleh dibilang belum mampu berdiri tegak karena dibelit banyaknya persoalan. Berawal dari krissis moneter yang menimpa Indonesia pada 1997, dilanjutkan dengan Letter of Intent (LoI) pemerintah Indonesia dengan IMF pada 1998 hingga sempat dipailitkannya PTDI pada tahun 2007. Namun semua itu mampu dilalui PTDI dengan penuh sabar dan kerja keras. Hasilnya, PTDI mulai bangkit kembali dan  masa-masa sulit telah dilewatinya. Pemerintah mulai serius dengan keberadaan PTDI, yaitu dgn menunjuk PT. PPA (Perusahaan Pengelola Aset) untuk melakukan program Restrukturisasi dan Revitalisasi di tubuh PTDI. Sayap bisnis kembali mengepak untuk terbang membawa PTDI menjadi perusahaan yang sehat dan stabil.

Menunjukkan kemajuan

Pada periode ini PTDI diam-diam mencatat satu demi satu keberhasilan bisnis, diantaranya mengirimkan 2000 komponen Airbus A320/A321, pesanan 4 unit pesawat intai maritime canggih CN235 Korean Coast Guard ke Korsel, mengirimkan Tailboom MK II EC725 / EC225 ke EuroCopter dan kontrak kerjasama dengan Airbus Military untuk pembuatan 9 unit pesawat transportasi militer C295 untuk TNI AU.

Catatan istimewa
Sejak 2011 PTDI telah disertakan dalam pekerjaaan rancang bangun oleh Airbus Industries dalam proyek pesawat komersil berbadan lebar untuk masa depan, Airbus A350. Juli lalu, telah ditandatanganinya MoU antara PTDI dengan PT Merpati Nusantara (Persero) untuk pembelian 20 unit pesawat NC212-400. Sebelumnya, PTDI menandatangani nota kesepahaman pembelian 20 unit pesawat N219 dengan PT NBA yang meski menghasilkan pesawat kelas kecil tetapi punya arti strategis, baik bagi kepentingan negara 17.000 pulau ini, maupun bagi PTDI. Catatan istimewa lain dalah kesertaan PTDI sebagai pembuat tunggal komponen penting sayap A380, pesawat komersil bertingkat dua dan terbesar dunia sekarang ini. Catatan keberhasilan ini berlanjut dengan telah diselesaikannya 7 unit pesanan helikopter NBell412 versi militer untuk TNI AD sebanyak 4 unit dan 3 unit untuk TNI AL. Juga, kerjasama jangka panjang untuk membangun pusat unggul bidang pertahanan dan dirgantara bersama NSI (Nusantara Secom Interface) dan Dessault Systems Perancis, kontrak pembelian 3 unit CN235 oleh TNI AL, CN235 MPA yang telah diserahterimakan kepada TNI AU dan penyerahan CN235-220 AT VIP ke Senegal Air Force, kerjasama dengan Iberia Maintenance Spanyol dalam bidang perawatan, pemeliharaan dan operasi serta pekerjaan – pekerjaan komponen pesanan Boeing untuk B777 and B787. 

Last but not least, langkah besar sampai puluhan tahun ke depan ini berpijak pada fondasi-fondasi yang dibangun PTDI berupa program pesawat tempur super canggih masa depan yang sementara ini dinamai KF-X.  Pesawat ini berkelas jauh di atas F-16 bahkan Sukhoi-30. Guna mendukung program ini, PTDI telah mengirimkan personil-personil dan kader ke Korea Selatan, mendirikan pusat rancang bangun KF-X di Bandung yang berhubungan instan dengan gedung pusat KF-X di Daejon, Korea Selatan. Semoga dalam usia yang cukup matang ini, PTDI mampu membuktikan sebagai salah satu industri strategis yang benar-benar andalan bangsa, khususnya dalam penyediaan alut sista dirgantara. Semua upaya ini dapat tercapai berkat perhatian dan dukungan penuh Pemerintah, kerja keras dan dedikasi ikhlas seluruh jajaran PTDI. Dirgahayu PTDI …………

sumber
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s