B.J. Habibie: Saya Mau Berontak (Bagian 2)

120556_bjhabibiehasan904/10/2013. Baharuddin Jusuf Habibie, masih konsisten di jalurnya sebagai salah satu pakar pesawat terbang. Di usianya yang ke-77, mantan Presiden Republik Indonesia yang ketiga ini sekarang aktif di PT Regio Aviasi Industri (RAI), perusahaan perancang pesawat terbang komersil, yang baru-baru ini telah menerima pesanan 100 unit pesawat R80 dari NAM Air, anak perusahaan maskapai Sriwijaya Air.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang perusahaan dan pesawat R80 itu, Deddy Sinaga, Suhendra, Hidayat Setiaji, dan Kustiah dari DetikFinancemewawancarai Habibie di kediamannya, di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Selasa lalu. Berikut petikan wawancara bagian kedua:

Di ASEAN apakah kita yang unggul dalam industri dirgantara? Bagaimana dengan Malaysia, mereka juga bikin pesawat sendiri?

Malaysia dari mana? Dia enggak punya apa-apa. Pesawat capung-capung. Malaysia mana pasarnya? Singapura, boleh saja dia jagoan, tapi dia belum pernah buat pesawat yang terbang.

Bagaimana hubungan RAI dengan PT Dirgantara Indonesia?

Saya membuat R80 berpisah dari PT DI hanya untuk desain. Kalau saya masuk dari semula, tidak membuat perusahaan tersebut, dan menyerahkan semua ke PT DI, maka, pertama PT DI minta duit. Pemiliknya 100 persen pemerintah. Sebelum itu, masuk Komisi I, komisi sekian. Untuk menghindari itu, kami buat perusahaan sendiri, RAI yang tugasnya mendesain pesawat terbang. Saya pakai orang-orang Indonesia yang di luar negeri saya tarik pulang dan apa yang bisa diberikan kepada PT DI saya serahkan ke PT DI. Supaya dekat dengan DI kita sewa ruangan-ruangan di PT DI. Untungnya tidak ada satu dari DPR yang korek-korek. Ini swasta.

Apakah sudah memanggil orang-orang kita yang di luar negeri?

Saya sudah kerja. Mereka sudah kerja. Sudah enam bulan, hampir satu tahun.

Pengembangan R80 sudah berapa persen?

Yang kita butuhkan adalah mengadakan negosiasi dengan engineer. Itu sudah mulai dengan yang membuat landing gear. Anda punya mobil Toyota atau Daimler Benz kan velg-nya bukan buatan Daimler Benz. Itu namanya perusahaan penunjang. Kita lagi negosiasi dengan mereka.

Selain komersial ada untuk pesawat tempur?

Tidak, kita hanya mau komersial.

Di Indonesia lebih cocok jet atau propeller?

Dua-dua dibutuhkan. Kereta api saja ada yang express dan yang pelan. Yangexpress lebih mahal

Anda pernah ikut mengembangkan pesawat yang bisa takeoff/landingvertikal, mengapa tak memakai jenis pesawat itu di Indonesia? 

Terlalu mahal. Saya pernah ikut di situ. Tapi ngapain, itu untuk perang.

Tapi lapangan terbang di daerah kan landasannya pendek?

Untuk penumpang bisa pakai short takeoff landing, CASA 212. CN235 bisa di situ. Tinggal bikin kayak lapangan bola panjangnya katakanlah 1,5 km, sudah cukup. Itu lebih murah. Sama juga ada yang ngomong lebih baik pakai pesawat amfibi yang mendarat di laut. Tapi kalau dari laut masih harus lewat darat sejauh 100 km bagaimana? Yang praktis saja.

The next R80 apa?

Saya akan pikirkan membuat yang 100 atau 160 seater. Saya juga bisa buat jet, tapi boros. Kalau saya bisa lebih murah, sama amannya. Cuma bedanya kalau jet terbangnya 33 ribu feet ini 27 ribu feet. Dan lebih pelan. 20 persen lebih pelan, tapi operating cost 50 persen lebih murah. Itu sasarannya.

Bagaimana keterlibatan lima maskapai dalam proyek R80 ini?

Mereka tahu bahwa kalau misalnya beli produksi dalam negeri berarti mereka membantu supaya rakyat Indonesia lebih banyak dapat jam kerja, lapangan kerja. Akibatnya lebih banyak passenger yang pakai pesawat terbang. Yang kita inginkan adalah supaya orang-orang Indonesia kualitasnya meningkat karena dia bekerja.

Apa kabar CN2130? Kan seharusnya beroperasi pada 2005. Apa kendalanya?

Karena enggak boleh. Kita sedang mengadakan flight test, cost money kan? Itu tiba-tiba dikatakan pemerintah, pemiliknya tidak boleh membantu lagi. Terus saya bilang oke, kalau tidak boleh saya mau mengambil loan. Saya kredibel, boleh diperiksa. Perusahaannya tidak bangkrut, transparan, banyak bank yang mau kasih loan. Tapi tidak boleh karena katanya utangnya terlalu banyak. Saya nggak berutang, yang berutang itu BLBI yang malas itu. Itu berapa, Rp 600 triliun. Kita nggak ada apa-apa. Padahal yang kita butuhkan itu hanya US$ 100 juta.

Ngomong-ngomong apa kiat menjadi jenius?

Saya nggak tahu. Kalau Anda bilang saya jenius, saya bilang biasa saja. Tapi karena sering konsenrasi, sering bertanya, waktu saya kecil kalau ada sesuatu saya tanya kenapa begini, kenapa begitu, semua ditanya. Lama-lama bapaknya capek jadinya saya dibelikan buku. Minumnya banyak air. Makan kalau perlu saja. Dulu di rumah kalau dikatakan ya kutu buku. Kan enggak ada internet. Terus disuruh ngaji.

Saat itu sudah ingin belajar membikin pesawat?

Enggak. Saya memikirkan pertama kali itu bagaimana membuat jembatan itu enggak runtuh.

Buku favorit?

Apa saja. Tapi biasanya teknik. Yang ada kaitannya dengan ilmu alam. Karena itu dari dulu saya ingin belajar di jurusan ilmu alam.

Resep menjaga kesehatan?

Berenang. Saya makan satu kali dalam sehari. Biasanya brunch atau lundi,jam 5 begitu. Orang tidak pernah melihat Pak Habibie nganggur atau pergi jalan-jalan minum teh atau kopi, paling banter di kamar, baca, atau korek-korek laptop, atau ngaji. Di mobil juga. Dulu Ibu tahu kalau saya lagi sedih sukanya buat sajak. Ini just for me. Nanti saya cari. Kalau dikumpul banyak itu (sajak).

sumber: http://finance.detik.com/read/2013/10/04/115957/2377807/459/5/bj-habibie-saya-mau-berontak–bagian-2-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s