PT Dirgantara Indonesia, Sempat Mati Kini Terbang Kembali

pembuatan prototipe n219 21/05/2014. PT Dirgantara Indonesia (PTDI) sudah mengalami asam garam industri penerbangan. Perusahaan pelat merah ini pernah mau ‘mati’ di penghujung 90-an, tapi sekarang sudah terbang kembali.

Seperti dikutip detikFinance dari berbagai sumber, Rabu (21/5/2015), Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bermarkas di Bandung ini merupakan industri pesawat terbang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara.

Perusahaan ini didirikan pada 26 April 1976 dengan nama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio. Saat itu BJ Habibie memimpin di kursi Presiden Direktur.

Sebelum berbentuk Perseroan Terbatas (PT), BUMN ini awalnya bernama Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP). Lembaga ini disiapkan pemerintah untuk menyiapkan unit penerbangan di Indonesia untuk memberikan bantuan logistik kepada dunia penerbangan.

Tujuan lebih jauhnya adalah mengurangi ketergantungan Indonesia kepada luar negeri baik dengan produksi pesawat terbang sendiri dan sampai menyiapkan suku cadangnya. LAPIP sempat memproduksi pesawat di bawah lisensi yang bernama PZL-104 Wilga yang kemudian dikenal sebagai Gelatik. 

Pesawat Gelatik ini dapat menampung empat penumpang serta bermesin tunggal (monoplane). Pesawat ini dilengkapi dengan kemampuan Take off dan Landing dengan jarak yang pendek (Short Take Off Landing).

Pada tanggal 21 Maret 1966 Marsekal pertama Nurtanio gugur dalam kecelakaan pesawat terbang, sebagai tanda penghormatan atas jasanya, maka LAPIP diubah namanya menjadi Lembaga Industri Pesawat Terbang Nurtanio (LIPNUR) sebelum akhirnya berubah menjadi PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio.

Pada masanya ini, beberapa pesawat sudah berhasil dirancang dan diterbangkan, antara lain Sikumbang, Belalang, dan Kunang.

Nama perusahaan berganti lagi menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985. Masalah mulai muncul pada masa ini, Indonesia memasuki krisis ekonomi yang parah.

Pemerintah meminta bantuan IMF tapi dengan syarat IPTN harus ditutup atau menghentikan produksinya. Kala itu IPTN sedang menggarap pesawat N-2130, proyek ini terpaksa dihentikan karena krisis finansial.

Selain itu pesawat andalannya N250 di tahun 1998 juga terpaksa tidak dilanjutkan. Akibatnya banyak PHK terjadi di tubuh IPTN, dari 16.000 karyawan dipangkas hingga hanya 4.000 karyawan saja. Produktivitas IPTN pun turun drastis.

Perusahaan hanya memproduksi rata-rata 12 pesawat per tahun sampai akhirnya mengalami kesulitan keuangan yang kronis. Bahkan perusahaan juga sempat tak mampu membayar gaji dan pesangon karyawan yang kena PHK.

Setelah direstrukturisasi, IPTN kemudian berubah nama menjadi Dirgantara Indonesia pada 24 Agustus 2000. Dirgantara Indonesia tidak hanya memproduksi berbagai pesawat tetapi juga helikopter, senjata, menyediakan pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat.

Perusahaan pelat merah itu juga menjadi sub-kontraktor untuk industri-industri pesawat terbang besar di dunia seperti Boeing, Airbus, General Dynamic, Fokker dan lain sebagainya.

Namun karena dinilai tidak mampu membayar utang berupa kompensasi dan manfaat pensiun dan jaminan hari tua kepada mantan karyawannya, PTDI dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada 4 September 2007. Namun pada tanggal 24 Oktober 2007 keputusan pailit tersebut dibatalkan.

Tahun 2012 bisa dibilang momen kebangkitan PTDI, ditandai dengan mengirim 4 pesawat CN235 pesanan Korea Selatan. Selain itu PTDI juga sudah menyelesaikan 3 pesawat CN235 pesanan TNI AL, dan 24 Heli Super Puma dari EUROCOPTER.

Selain beberapa pesawat tersebut Dirgantara Indonesia juga sedang menjajaki untuk membangun pesawat C295 (CN235 versi jumbo) dan N219, serta kerja sama dengan Korea Selatan dalam membangun pesawat tempur siluman KFX.

Sempat mati namun kini bangkit kembali, itu ungkapan yang tepat untuk PTDI.

 

sumber: http://finance.detik.com/read/2014/05/21/073832/2587833/1036/1/pt-dirgantara-indonesia-sempat-mati-kini-terbang-kembali

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s